Ngabuburit Otomotif, Bensin Jenis Apa yang Dipakai Motor MotoGP? RON Setinggi Ini

Bahan bakar motor MotoGP - Source: Careta.my

Beritahits.com – Ngabuburit memang seru kalau bahas hal-hal teknis yang jarang diketahui orang, apalagi kalau kamu penggemar MotoGP yang lagi antusias menunggu musim 2026 dimulai.

Pernahkah terpikir, motor prototipe secanggih motor Pecco Bagnaia atau Marc Marquez itu minumnya apa sih?

Apa ia bensin motor mereka sama dengan BBM yang kerap kita beli di SPBU?

Jelas tidak, karena bahan bakar motor MotoGP punya spesifikasi “dewa” yang jauh di atas motor harian kita.

Memasuki tahun 2026, regulasi bahan bakar di MotoGP semakin ketat dan menarik.

Karena fokusnya sudah bukan cuma soal kecepatan motor, tapi juga soal tanggung jawab lingkungan, salah satunya diwujudkan dengan jenis BBM yang dipakai.

Jika di Indonesia kita menganggap Pertamax Turbo dengan RON 98 sudah yang paling tinggi, maka buat MotoGP itu belum ada apa-apanya.

Regulasi FIM menetapkan bahwa bahan bakar motor MotoGP wajib memiliki nilai oktan RON 102.

Oktan setinggi ini dibutuhkan karena mesin MotoGP bekerja dengan kompresi yang sangat ekstrem dan putaran mesin (RPM) yang sangat tinggi.

Kalau pakai bensin biasa, mesin bisa langsung knocking atau bahkan jebol dalam hitungan detik.

Campuran Sustainable Fuel

Salah satu poin krusial di musim 2026 adalah penggunaan bahan bakar berkelanjutan (sustainable fuel).

Mulai tahun 2024 telah dibuat aturan soal BBM yang minimal mengandung 40 persen bahan non-fosil.

Di tahun 2026 MotoGP terus melanjutkan transisi menuju penggunaan BBM berbahan non-fosil yang akan diwajibkan mulai 2027.

Jadi, bensin yang dipakai sekarang adalah campuran antara bahan bakar fosil berperforma tinggi dengan komponen ramah lingkungan.

Baca Juga: Pecah Rekor, Marco Bezzecchi Tumbangkan Marc Marquez di Tes Pramusim MotoGP 2026 Thailand

Beda Pabrikan, Beda Suplier BBM

Berbeda dengan ban yang semuanya wajib pakai Michelin, untuk urusan bensin, pabrikan dibebaskan memilih pemasok masing-masing.

Ini membuat persaingan antar produsen bahan bakar jadi “balapan” tersendiri di laboratorium.

Sejauh ini dari Ducati setia dengan pemasok BBM Shell.

Sementara itu Honda (HRC) tetap disuplai oleh Repsol.

Tim lainnya ada yang menggunakan Elf atau TotalEnergies.

Meskipun mereknya beda-beda, semua bensin ini wajib lolos uji homologasi ketat dari Dorna Sports dan FIM agar tidak ada yang melakukan kecurangan.

Jatah 22 Liter

Mesin MotoGP itu sangat haus tenaga, tapi teknisi hanya dibekali jatah 22 liter untuk sekali balapan.

Di sinilah seninya, tim harus memutar otak bagaimana menciptakan tenaga mesin sebesar lebih dari 250 HP tapi tetap irit agar bensin tidak habis sebelum garis finis.

Pengawasan ini juga dilakukan sangat ketat oleh sensor-sensor elektronik yang terhubung langsung ke sistem Dorna.

Makanya, tim balap punya cara “curang” tapi legal untuk memasukkan bensin sebanyak mungkin ke dalam tangki, yaitu dengan memanfaatkan hukum fisika, penyusutan suhu.

Sesuai hukum fisika, benda cair akan memuai saat panas dan menyusut saat dingin, inilah yang dimanfaatkan oleh mekanik MotoGP:

Bensin yang dingin memiliki densitas (massa jenis) yang lebih padat.

Artinya, dalam volume ruang yang sama, bensin yang dingin akan memiliki jumlah molekul yang lebih banyak dibandingkan bensin yang hangat.

Ini cara “curang” untuk mendapatkan ekstra energi tanpa melanggar volume tangki.

Tapi, FIM tetap meregulasi hal ini sehingga bensin tak bisa didinginkan semaunya.

Sesuai regulasi FIM, bensin tidak boleh didinginkan lebih dari 15 derajat Celcius di bawah suhu udara luar (ambient temperature).

Jadi, misal suhu udara di sirkuit Buriram sedang di angka 35 derajat Cecius, tim hanya boleh mendinginkan bensinnya sampai 20 derajat Celcius.

Sebelum dituang ke motor, jeriken bensin disimpan di dalam boks pendingin khusus yang mirip kulkas portabel canggih.

Petugas teknis dari FIM akan memeriksa suhu bensin ini secara ketat dengan termometer digital sesaat sebelum pengisian dimulai.