Beritahits.com – Jakarta. Tragedi tabrakan KA Argo Bromo Anggrek di Stasiun Bekasi Timur menyisakan fakta teknis yang mengejutkan. Kepala Seksi Kumpul, Olah, dan Kaji Data Kecelakaan Lalu Lintas Korlantas Polri, Kompol Sandhi Wiedyanoe, menyebutkan bahwa Argo Bromo melaju di angka sekitar 110 kilometer per jam saat menabrak KRL.
“Kereta Argo Bromo melintas dengan kecepatan sekitar 110 kilometer per jam saat kejadian. Informasi yang tidak menyeluruh membuat kereta tidak melakukan perlambatan signifikan,” ujar Kompol Sandhi Wiedyanoe, Selasa (28/4/26), mengutip RRI.co.id.
Fakta ini membuat banyak orang bertanya-tanya, mengapa masinis tidak langsung mengerem saat melihat rintangan di depan?Jawabannya terletak pada hukum fisika dan sistem pengereman kereta api yang jauh berbeda dengan mobil atau motor.
Massa vs Momentum, Lawan yang Mustahil Dimenangkan
Satu rangkaian kereta api eksekutif seperti Argo Bromo memiliki berat ratusan hingga ribuan ton. Di kecepatan 110 km/jam, kereta membawa energi kinetik yang sangat masif.
Berbeda dengan mobil listrik atau taksi yang punya ban karet dengan gaya gesek tinggi terhadap aspal, kereta api menggunakan roda baja di atas rel baja. Koefisien gesek baja-ke-baja sangatlah rendah.
Hal ini memang menguntungkan untuk efisiensi bahan bakar karena minim hambatan, namun menjadi tantangan besar saat pengereman darurat. Di kecepatan 110 km/jam, sebuah kereta api membutuhkan jarak hingga 1,5 kilometer atau lebih untuk bisa berhenti total sejak rem darurat diaktifkan.
Yang tak banyak orang tahu, mengaktifkan rem darurat juga bukannya tanpa risiko. Bahkan banyak yang menganggap emergency brake bisa menghentikan kereta seketika.
Kenyataannya, pengereman yang terlalu mendadak justru berisiko tinggi menyebabkan wheelslide hingga anjlok. Wheelslide adalah situasi saat roda terkunci namun tetap meluncur di atas rel, mirip seperti fenomena aquaplaning pada mobil.
Bukannya cepat berhenti, namun wheelslide justru memperpanjang jarak henti sehingga risiko tumbukan jauh lebih besar. Tekanan pengereman yang ekstrem secara tiba-tiba itu juga dapat menyebabkan gesekan panas yang luar biasa dan ketidakseimbangan beban, yang berisiko membuat gerbong keluar dari jalur alias anjlok.
Kompol Sandhi Wiedyanoe juga menyebutkan adanya “informasi yang tidak menyeluruh” dalam tragedi ini. Pada kecepatan 110 km/jam, kereta api menempuh jarak sekitar 30 meter setiap detiknya.
Jika informasi mengenai adanya rintangan, dalam hal ini disebabkan taksi mogok atau KRL berhenti, terlambat diterima masinis hanya dalam hitungan 10 detik saja, maka kereta sudah meluncur sejauh 300 meter tanpa perlambatan.
Ketiadaan sinyal peringatan dini yang sampai ke kabin masinis membuat KA Argo Bromo tetap melaju sesuai kecepatan operasionalnya hingga benturan tak terelakkan.
Sekali lagi, kereta api itu bukan “mobil raksasa” yang bisa direm mendadak. Di kecepatan 110 km/jam, masinis bisa dibilang sudah kehilangan kendali untuk berhenti secara instan sejak satu kilometer sebelum titik tabrakan.
Itulah kenapa sistem pengamanan perlintasan dan koordinasi antarpetugas itu sangat penting buat menghindari kejadian ini terulang di masa depan. (gg)
Baca Juga: Tembus Gerbong Wanita! Kecepatan KA Argo Bromo Anggrek Hantam KRL di Bekasi Sekencang Ini



