Beritahits.com – Jakarta. Tragedi tabrakan KA Argo Bromo Anggrek di Bekasi Timur menyisakan tanda tanya besar bagi banyak orang. Mengapa unit taksi listrik yang mogok di tengah rel tidak segera dievakuasi sebelum kereta datang?
Sejauh ini, diduga mobil listrik yang diketahui merupakan VinFast VF e34 mengalami kegagalan sistem, sehingga membuatnya tak bisa didorong. Salah satu teori teknis yang mencuat adalah adanya pengaruh elektromagnetik di area perlintasan kereta api.
Rel kereta api, terutama di jalur padat seperti Bekasi, memiliki arus listrik dan medan magnet yang kuat dari sistem persinyalan dan kabel listrik aliran atas.
Ada kemungkinan sistem komputer pada mobil listrik yang sensitif mengalami glitch atau kegagalan modul komunikasi saat berada di titik tersebut. Hal itu berujung pada sistem manajemen baterai (BMS) mendeteksi adanya anomali arus. Akibatnya mobil bisa secara otomatis masuk ke mode fail-safe atau mati total untuk melindungi komponen baterai.
Baca Juga: KA Argo Bromo Anggrek Tak Berhenti Hindari KRL, Ternyata Rem Darurat Simpan Risiko Fatal
Rem Parkir Elektronik Berperan Besar
Berbeda dengan mobil konvensional zaman dulu yang menggunakan rem tangan mekanis, hampir semua mobil listrik modern seperti VinFast VF e34 menggunakan rem parkir elektronik alias Electronic Parking Brake (EPB).
Masalah besar muncul ketika mobil mengalami mati total (total power loss). Saat sistem kelistrikan padam, rem parkir elektronik sering kali otomatis mengunci dan tidak bisa dilepas secara manual tanpa adanya daya listrik.
Inilah yang diduga membuat warga di lokasi kejadian gagal mendorong taksi tersebut menjauh dari rel meski sudah berusaha keras. Hal itu diperparah dengan proses “Neutral Mode” yang rumit.
Pada mobil listrik, memindahkan transmisi ke posisi Netral (N) biasanya memerlukan sistem dalam kondisi aktif. Jika mobil mogok karena kegagalan sistem, memindahkannya ke posisi netral agar bisa didorong membutuhkan prosedur khusus yang sering kali tidak diketahui oleh pengemudi dalam kondisi panik.
Tanpa posisi netral, roda penggerak pada EV akan tertahan oleh motor listrik, sehingga mobil terasa “terpaku” di aspal. Ironisnya, segala fitur pada mobil listrik itu sebenarnya dibuat untuk tujuan keselamatan. Namun siapa yang tahu, ternyata fitur itu bisa juga jadi bumerang kalau sistem listriknya gagal di lokasi kritis seperti perlintasan kereta. (gg)



